//
archives

Merangkai cerita dalam perjalanan

This category contains 8 posts

Suara jiwa


Oke: Permata yang tergilas peradaban, Oke: Perlu menampakkan perubahan, Oke: Ya, agar tiada tertelan oleh zaman, Oke: Berhubung siang masih menunjukkan keramahan, Oke: sedangkan malam sebentar lagi menjelang, Oke: untuk hadirkan pagi keesokan hari, ya, lusa… Oke: kita perlu tertawa bersama, Oke: agar indahnya dunia semakin terasa, Oke: ia ada, Oke: tak hanya untuk seseorang … Continue reading

Coretan malam


Seorang gadis manis melangkah penuh harapan, menuju Sangga Buana tadi malam, dengan satu tujuan untuk menempuh pendidikan, sebagai bekal kehidupan di masa depan,   Meski gelap malam terus merayap perlahan, walau kondisi fisik perlu terus dipertahankan, namun sang gadis terus melangkah, berjalan, untuk mengisi kesempatan,   Sang gadis bergumam dalam diam, menyapa sunyi bersama seruan … Continue reading

Shiny ^_^


There is a beautiful girl.  Her name is Shiny.  She is seventeen years old, now.  Her hobby is writing on her diary.  She has a green diary.  It’s cover is greeny. She writes her life story  on her diary everyday.  She always write with her black pen.  It gave by her mother when she went … Continue reading

Rangkaian kata yang tiada terucap


Sejak lama perjalanan ia rasakan.  Sejak letih melangkah mulai terasa.  Kini sang perempuan terduduk.  Terpaku dengan alamNya yang indah.  Akhirnya direngkuhnya note yang selama ini berjasa menjadi sahabatnya.  Ia ingin merangkai beraneka jenis kata yang timbul dari fikirnya.  Ia ingin mencurahkan semua dalam lembar demi lembar yang telah siap menanti.  Untuk ia taburi dengan tinta … Continue reading

Mentaripun tersenyum (6)


Dan sekarang ia mulai terdiam.  Merenungi jauhnya perjalanan yang telah ditempuhinya.  Sekilas ia menatap ke belakang.  Mengenangkan beberapa jejak langkah yang perlahan mulai bias.  Tiada jelas lagi dari pandangan matanya yang tidak begitu jelas.  Ia kucek-kucek kedua mata itu sejenak.  Hingga akhirnya hampir sempurnalah penglihatannya.  Hingga jejak-jejak tersebut semakin jelas terlihat.  Masih ada ternyata.  Belum … Continue reading

Mentaripun tersenyum (5)


Hingga akhirnya ia perlu berhenti sejenak.  Bernaung di bawah rindangnya pepohonan.  Menikmati sejuknya semilir angin yang bertiup sepoi. Untuk mengembalikan energi yang perlahan mulai berkurang.  Agar kembali dapat meneguk segarnya minuman pelepas dahaga. Mencicipi bekal yang telah lama bergelayut di pundaknya.  Lalu menidurkan fisik untuk kembalikan kesegaran itu.  FRESH.  Mendiamkan fikir untuk merenung.  Namun semua … Continue reading

Mentaripun tersenyum (4)


Ia perempuan.  Perempuan yang dalam perjalanan. Begitu teguhnya ia. Meski lelah dibuai peluh airmata.  Walaupun perlahan gerak itu semakin gemulai.  Ya, tidak sekekar dulu lagi.  Seperti halnya pertama kali ia melangkah.  Kini fisiknya mulai dipenuhi bening yang terus membanjiri diri.  Tidak hanya di wajah, punggung, hingga pergelangan tangannya kuyup semua.  Miris.  Satu rasa yang terhadirkan … Continue reading

Kalau cinta katakan saja ^(*)^


Pagi yang bersinar.  Penuh cahaya yang menerangi jiwa.  Meski semalaman berteman dengan linangan airmata. Sungguh!  Sebuah rasa yang begitu sempurna, ketika bersama-sama dengan sang CINTA.  YANG KITA CINTA.  Mengungkapkan segalanya dengan bebas, semaunya.  Meski apapun yang terjadi.  Walau bagaimanapun tanggapan Sang Cinta.  Namun, dengan mengungkapkannya secara langsung, maka legalah di jiwa.  Plong! Cerah kembali hari … Continue reading